Cari

KandeBlog's

Writte it down, Leave it in history

Hilang

lost-series-reveiw-jpeg-289519Entah bagaimana akan kujelaskan. Aku merasa begitu hilang dalam duniaku sendiri sejak kepergianmu. Sejak kedatanganmu yang tiba-tiba, juga kepergianmu tanpa berita.Duniaku berubah. Sudut-sudut hati yang sempat kau terangi dalam kunjungan singkatmu, kembali menjadi gelap. Namun, sekarang kegelapan dalam ruang hatiku menjadi lebih gelap. Hey! Aku sudah hampir tidak akrab dengan kegelapan. Dulu kegelapan dan kesendirian adalah kawan karibku, sekarang aku merasa terasing, bahkan oleh apa yang dulu kuanggap bagian dari hidupku.

Aku seperti tersesat dalam duniaku. Dunia yang sempat kau singgahi. Dunia yang kau singgahi sebentar, tetapi berubah selamanya sejak kedatanganmu. Apa yang dalam kegelapan, kesendirian dan keterasinganku ku tahu persis, sekarang menjadi asing sama sekali, bahkan dalam cahaya terang benderang. Entah kemana matahari… ah, mungkin kepergianmu juga membawa matahari ikut serta.

Andai kau pergi dengan sebuah janji, atau kau pergi dengan mengikat hati denganku. Andai saja ada sedikit rasa kasihanmu padaku yang harus menanggung ketidakpastian dalam duniaku. Mengapa cahaya yang kau bawa masuk ke dalam hatiku kau bawa pergi lagi ketika mataku mulai akrab dengan terang?

Ketika kutanyakan dalam surat-surat ku padamu, jawabanmu penuh ketidakpastian. “Lebih baik kita bersaudara,” katamu. Aku bingung, persaudaraan seperti apa yang ada kaitannya dengan ranjang dan selangkangan? Tidak ada kedekatan sedarah yang diekspresikan dengan ciuman penuh nafsu di malam panjang yang sepi! Tidak!

“Kita jalani saja, lihat nanti…” ujarmu. Tapi aku tidak ingin menjalani hidupku begitu saja. Terlalu banyak persimpangan dalam hidup dan aku harus selalu siap mengambil pilihan. Pilihan-pilihan yang terencana, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Aku akan malu dengan pada kejantananku jika aku tidak punya rencana dan arah yang jelas dalam hidup. Aku punya nilai-nilai yang kujaga, ada prinsip yang kupegang. Inilah yang menjadi pedoman dalam pilihan-pilihanku. Jalani saja bukan pilihanku. Berjalan tanpa arah, tanpa tujuan bisa berbahaya. Kita bisa tersesat, bahkan celaka!

“Kenapa kamu seperti tidak punya arah?” tanyaku padamu malam itu. Lama kau terdiam. Mungkin kau sengaja mempermainkan perasaanku. Mungkin kau sengaja bermain dengan emosi-emosiku, atau kau sedang mengeksplorasi perasaan-perasaanku?

Aku tidak punya jawaban apa-apa untuk pertanyaan itu. Yang aku tahu, kau kembali berusaha menutupi ketidakyakinanmu padaku, atau mungkin ketidakyakinanmu pada dirimu malahan! Yang kudengar dari bibirmu terucap, “Aku masih mencari, jadi belum tahu arahnya…”

Berdegup kencang dadaku oleh rasa marah. Namun aku tahu, aku sama sekali tidak berhak marah. Hatiku dipenuhi dengan rasa sesal, namun aku tahu tidak ada gunanya. Aku merasa dipermainkan, namun aku tidak punya argumen yang kuat di depanmu. Aku kecewa, tapi aku tidak berhak mengekspresikannya kecuali hanya terdiam. Apakah dengan mencaci maki dirimu aku akan puas? Tidak. Aku malah akan memuaskan kobaran api dalam dadaku dengan kobaran yang lebih besar. Dengan menunjukan bahwa aku tersakiti, apakah itu akan cukup berarti bagimu? Aku rasa tidak. Aku tidak cukup berarti bagimu, aku tahu.

Apa cara yang paling baik untuk menghadapi orang yang pernah sedekat kulit dengan kita, namun kini terasa sejauh bermil-mil? Bagaimana menghadapi emosi dan perasaan terbuang ini dengan benar? Bagaimana aku bisa sembuh dari rasa ini?

Keep silence and give it time. Waktu menyembuhkan hampir segala hal. Biarkan waktu yang mengambil alih apa yang kurasakan dan menggantinya dengan apa yang lebih baik. Untuk saat ini, diam, tidak menghiraukanmu, dan menjauh darimu adalah keputusanku. Aku tidak pernah memilih untuk pergi, kau yang membuangku. Aku tidak pernah pergi darimu, kau yang terus saja lari dan meninggalkanku.

Aku punya mimpi. Aku punya masa depan yang harus kukejar. Berlari tanpa arah di belakangmu, yang bahkan kau sendiri tidak tahu kau mau kemana! Kita sama-sama dapat hilang! Atau kita sama-sama dapat celaka! Ini terlalu sangat berbahaya. Akan lebih baik bagiku untuk pergi, menjauh dan meninggalkanmu. I have my own life, baby. Go on with your life….

Oleh Andreas Kandenapa

Iklan

T.R.U.E.L.O.V.E : Berbicara Tentang Cinta Sejati

12108864_110345049322391_1991908632118210633_n

TRUE LOVE. Berbicara tentang cinta sejati memang bukan sebuah perkara sederhana bagi saya. Bukan apa-apa, saya sendiri juga masih dalam perjuangan panjang mencari cinta sejati. Tapi, ada beberapa fakta yang layak kamu simak tentang apa itu “cinta sejati” menurut pandangan seorang seperti saya. It’s not about me, it’s about my values in life.

Pembicara dan penulis motivasional besar asal AS, Zig Ziglar, menulis dalam sebuah buku berjudul Something Else To Smile About tentang apa itu “cinta sejati”. Sang penulis menguraikan “cinta” sebagai tindakan, bukan “rasa”. Persis sama dengan apa yang disampaikan rasul Kristen abad pertama, yang dikenal sebagai peletak dasar teologi kekristenan, Paulus, yang berbicara tentang “kasih” atau “cinta” dalam 1 Korintus 13:1-3. Paulus menggunakan penggambaran yang sangat indah tentang salah satu emosi manusia yang paling kuat dan dalam.

Nah, saya menemukan gambar di atas ini di halaman Facebook salah satu “gebetan lepas” saya. Hahaha…

Saya suka dengan penggambaran “true love” dengan cara di atas ini. Huruf pertama “t” diperpanjang menjadi “trust”. Saya akui, nilai pertama dari sebuah relasi yang kuat adalah kepercayaan. Kepercayaan menyangkut kredibilitas dan integritas. Kredibilitas adalah “nilai kepercayaan yang diberikan dari orang lain pada seseorang”. Sedangkan integritas adalah “kepercayaan yang kita berikan pada diri kita sendiri”. Krefibilitas dan integritas selalu berbanding lurus: artinya semakin kita berintegritas, semakin kita kredibel. Semakin kita dapat mempercayai dan mengandalkan diri sendiri, kita semakin dapat dipercaya dan diandalkan orang lain. Cinta sejati harus dapat dipercaya dan diandalkan.

“Romance” atau romantisme adalah aspek kedua dalam cinta sejati menurut gambar di atas. Hey! Mungkin kamu berpikir “romantisme itu terlalu drama”. Haha… no… romantisme bukan berarti kamu perlu jadi drama queen kan? Ada perbedaan mendasar antara menjadi romantis dengan menjadi dramatis. Bangun di pagi hari lalu memeluk kekasihmu sambil mengucapkan selamat pagi, atau mengirim pesan singkat yang berisi rayuan manis di siang hari pada jam makan siang setelah rapat yang melelahkan, itu romantisme namanya. Saya sendiri menemukan pasangan yang sudah lanjut usia di sebuah pasar di Hamadi, yang masih saling memanggil dengan sebutan “sayang”. That’s true love….

Tapi, mendramatisir sebuah peristiwa dan menanggapi sesuatu dengan cara yang berlebihan, itu drama namanya. Bangun di pagi hari, lalu kamu nemu sebuah SMS di handphone kekasih kamu, lalu serta merta kamu berteriak berapi-api, membanting handphone dan mengungkit segala kejelekan pacarmu, itu drama namanya. Tentang mendramatisir situasi ini, ada baiknya gunakan pepatah ini “ada perasaan yang harus dipikirkan, dan ada pikiran yang harus dirasakan.”

Cinta sejati juga mengandung aspek understanding atau kemampuan untuk memahami. Memahami bukan hanya soal bagaimana saya tahu apa yang ia pikirkan tapi juga tentang bagaimana saya melihat dari perspektifnya. Sewaktu kita membina hubungan dengan seseorang, kita menjalin hubungan dengan seorang sosok yang memiliki berbagai aspek nilai, sejarah, pengalaman, emosi dan lain-lain. Karena itu, penting bagi kita untuk selalu menanamkan sikap mau belajar dari orang lain; mau melihat segala sesuatu dari perspektif orang lain. Understanding juga terkait dengan simpati dan empati. Dan dalam hubungan percintaan, kita akan bisa menemukan kepuasan dalam hubungan jika kita tidak berani mengambil langkah lebih jauh dengan berempati pada pasangan. Simpati berarti kita memahami keadaannya; empati berarti kita merasakan keadaannya.

Exicement, eksplorasilah hubungan Kamu. Yang saya maksudkan disini adalah mencoba berbagai cara baru untuk melakukan berbagai rutinitas. Rumput tetangga akan lebih hijau dari rumput di halaman kita jika rumput di halaman kita tidak terawat, kan? Dari pilihan restoran mana untuk dinner sampai posisi seks seperti apa yang bisa kamu coba, eksplorasilah semua, temukan semangat dalam hubunganmu. Tidak ada yang bisa membuat hubunganmu asik selain kamu dan pasanganmu. Enjoy!

Jhon C. Maxwell dalam bukunya 360 Degree Leaders menulis bahwa aspek terpenting dan paling mendasar yang menentukan kapasitas komunikasi kita dalam relasi dengan manusia adalah listening; mendengarkan. Iya, kamu capek setelah seharian bekerja, dimarahi bos di kantor dan proyek yang ngga kelar-kelar. Tapi, kamu tetap perlu mendahulukan “dua telinga” kamu dari “satu mulut”-mu kan? Dengarkan…

Aspek selanjutnya adalah listening. Orang-orang sekelas Martin Luther King dan Abraham Lincoln sukses dalam keluarga dan karir mereka karena mereka adalah pendengar-pendengar yang baik. Ketika mereka berhadapan dengan orang lain, dalam benak mereka selalu mereka tekankan bahwa “saya disini untuk mendengar lebih banyak dari berbicara.” Dan, ketika mereka mendengar dengan sangat baik, apa yang mereka katakan dihargai, mereka berbicara dengan sangat baik, dan kemudian memimpin keluarga, bisnis, karir; yaitu orang-orang dengan sangat baik. Kita dapat menunjukan pada pasangan kita bahwa kita menghargai mereka hanya dengan perbuatan sederhana: mendengarkan.

Saya suka penggambaran Paulus dalam suratnya pada orang Korintus tentang kasih. Paulus bilang “kasih menutupi segala sesuatu”. Dulu saya sering berpikir apakah ini berarti saya “menutup-nutupi” masalah? Dan ternyata bukan itu maknanya. Makna ayat tersebut lebih mendekati kata overcoming dalam bahasa Inggris, yaitu mengatasi segala sesuatu. Ada seorang tante yang berdikusi dengan saya tentang masalah dalam rumah tangganya yang berkata, “Dalam setiap persoalan, ada kesempatan bagi kita untuk melatih diri kita mengatasinya.” Itu sangat benar! Dari pada cemburu membabi buta, lebih baik coba bicarakan bagaimana perasaanmu dengan nada suara yang terkendali dan lembut. Dari pada membentak kasar pada pasangan saat ia lupa menaruh sikat gigi pada tempatnya lebih baik kamu ambil sikat gigi itu dan letakkan pada tempatnya, kemudian bicarakan baik-baik tentang beberapa kesepakatan bersama. Yah…beberapa orang mungkin akan mengungkin masalah lain ketika kita sedang menegur mereka dalam masalah lain. Itu karena kebanyakan dari kita tidak suka dikritik. Tapi dalam hubungan percintaan, belajarlah untuk menerima kritik dan sampaikan kritik dengan penuh cinta. Overcoming your self first, then you could overcome the barrier.

Treat your lovely one as valuable person. Tunjukan bahwa dia berharga. Kamu ngga bisa memendam perasaan bahwa kamu memuja kekasihmu, hanya karena kamu takut jika dia tahu kamu memujanya, dia akan meremehkanmu. Kamu memang harus memberitahukan padanya pada dia berharga bagimu. Ucapkan dan tunjukan dengan tindakan. Katakan “I love you so deeply…” sambil memeluknya di pagi hari; genggam tangannya dengan kuat ketika kamu akan menyeberangi jalan raya yang padat. Show them you love them. Cinta bukan soal “rasa” tapi “tindakan”.

Cinta sejati memiliki arti everything; segalanya. Ini tentang prioritas. Dan, saya akan berikan satu saran penting tentang menikmati true love dengan cara yang benar: God is our first love. Tuhan itu cinta pertama kita; the most valuable true love we ever had in life. Tuhan juga segalanya. Jadi untuk dapat merasakan dan menikamati cinta sejati, cintailah Tuhan, beribadahlah pada-Nya. Ketika kamu menikmati kebersamaan dengan kekasihmu, ingatlah akan kebaikan Tuhan dalam diri kekasihmu itu. Ketika kamu merindukan kekasihmu, ingatlah dan bersyukurlah pada Tuhan yang memberikan kamu rasa rindu itu. It is true love that means everything.

Selamat menikmati cinta!

Oleh : Andreas Kandenapa

images

Sebuah Ide Bisnis Baru: Mengangkat Nama Keluarga

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Well, dua gambar yang saya masukan ke slide-show di atas ini tentang ide baru saya untuk membangun sebuah clothing line. Saya rasa akan sangat bermanfaat jika saya memiliki sebuah sarana penyaluran kreativitas dan ruang aktualisasi diri lewat karya-karya saya dalam clothing line saya ini, kan?

Dan, hey! Saya sangat terbantu dalam membuka perspektif saya lewat internet, Instagram, Facebook dan tentu saja blog yang memberikan berbagai gambaran tentang dunia bisnis clothing lineI just so exited to start it by the way! Saya bakalan mulai mengumpulkan berbagai desain dan saya rasa, blog saya ini akan menjadi salah satu ruang untuk mengapresiasi visi dan membahas asa masa depan saya.

Saya sudah punya logo clothing line-nya. Dan saya rasa logo ini cukup mewakili diri saya. Tetapi tentu saja, karya-karya saya juga harus mendapat perhatian lebih agar saya diapresiasi oleh karya, bukan hanya gaya. 🙂

Well, then, saya rasa demikian.

Selamat malam gaes!

Hujan

hujan22

Dari dalam ruang tamu kecil di rumah kami, kupandangi hujan yang menetes. Tetes hujan yang dingin membawa udara dingin merasuki ruang-ruang di hatiku. Awan gelap dan pekat menggantung di atas sana, namun mendung yang sama menggelayut di dalam hatiku. Rintik hujan dan aroma tanah yang basah. Beberapa bocah lari kian kemari menikmati hujan yang tak kunjung reda. Seorang ibu melangkah gontai dengan payung menutupi tubuhnya dari air hujan.  Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Sudah lama rasanya hujan tidak turun dengan deras dan lama seperti ini.

Sesekali kuintip handphone-ku. Sebenarnya, aku berharap mendapatkan sebuah SMS. Setidaknya satu saja. Aku rindu pada perhatiannya. Aku rindu pada sapaan khasnya dengan emoticon senyum lebar itu. Emoticon itu selalu mengingatkanku pada senyumannya yang manis. “Senyuman paling manis sedunia,” sebutanku untuknya. Kenangan itu kembali terputar seperti fragmen-fragmen dalam benakku.

“Gombal kamu…” ujarnya manja seraya mendekapku dengan hangat. “Mulut kamu itu berbisa juga yah! Wajar saja banyak cewek yang kepincut sama kamu, Sand…”

Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Dua bola mata itu begitu indah. Bulu matanya yang melentik cantik begitu mempesona. Jantungku berdegup kencang sekaligus berdesir damai.

“Aku ngga pernah gombal sama kamu, sayang…” kataku padanya. “Kamu memang manis…” sambungku sambil tersenyum lalu mendekapnya lagi dengan lebih erat.

Cepat-cepat kualihkan pikiranku dari lamunan pada air yang mendidih dalam teko listrik. Kutuang air panas itu untuk menyeduh kopi. Kuseruput perlahan kopi hitam yang pekat itu. Manis dan pahit bercampur aroma kopi terasa nikmat. Kunyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Kubiarkan asap rokok itu memenuhi paru-paruku sesaat, lalu kuhembuskan. Sejujurnya, ini tidak memperbaiki suasana hatiku sama sekali. Kecanduanku ini malah kadang memperburuk mood-ku. Aku merasakan kepalaku mulai pening oleh nikotin dari rokok ini. Berbagai pikiran dan kegelisahan semakin menyeruak dan bercampur aduk. Pikiranku melayang ke masa lalu, berbagai emosi kurasakan.

Bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja, batinku. Aku seharusnya bisa lebih dewasa; aku seharusnya bisa lebih memahaminya. Suara hatiku mulai menghukumku dalam penyesalan.

“Nggak! Kamu ngga pernah sayang sama aku Sand! Kamu terobsesi sama aku!” katanya dalam nada tinggi yang menggema dalam kamar kami. “Aku ngga kenal lagi sama kamu! Kamu bukan Sandro pacarku!”

“Jes… aku mohon Jes… please…” Hatiku begitu tersayat oleh kata-kata Sitti. Aku sangat mencintai Sitti, itu yang kutahu. Namun, rentetetan peristiwa beberapa hari belakangan ini benar-benar meninggalkan luka menganga dalam hatiku dan hatinya. Aku hampir tidak mampu mencerna situasi ini, aku berharap ini hanya mimpi. Aku berharap aku tidak benar-benar melakukan hal-hal jahat itu pada Sitti.

“Kamu tahu aku ngga bisa menantang orang tua aku! Kamu tahu aku ngga berani! Kamu tahu sendiri seperti apa ibu dan ayahku! Kenapa??!! Kenapa kamu tega bicara seperti itu ke mereka??!!” Sitti memberondongku lagi dengan rentetan pertanyaan yang tak mampu kujawab. “Kenapa kamu egois banget sih Sandro!!”

“Aku ngga egois… aku sayang sama kamu… aku mau kita bareng… aku mau…”

“Semua tentang apa yang kamu mau! Semua ini tentang kamu aja, ya kan??!!”

Aku membisu. Air mata menetes pelan membasahi pipiku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa atau melakukan apa. Kakiku seperti terpaku pada ubin marmer kostan kami. Sitti menatapku dengan tatapan kecewa dan terluka. Aku tidak sanggup membalas tatapannya. Aku berpaling dan melihat ke lantai. Namun pikiranku melayang entah kemana. Bibirku seperti terjahit benang, lidahku kelu. Aku tak mampu lagi berbicara.

“Jangan pernah hubungi aku lagi dan jangan pernah berpikir untuk bertemu dengan aku lagi! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi Sandro!” bentaknya sambil menunjukan jari telunjuknya pada wajahku yang tertunduk kelu. Sitti cepat-cepat mengambil tas tangannya, keluar dan membanting pintu di belakangku.

Kenangan ini menyesak rasanya, batinku. Aku menghisap rokok itu lagi lalu melepas asapnya dengan perlahan. Kuhirup kopi itu lagi sambil memandangi telepon genggamku. Aku benar-benar berharap ada SMS dari Sitti sore ini. Aku benar-benar merindukannya.

Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku waktu itu. Yang aku tahu aku tak ingin kehilangan Sitti. Aku terlalu takut kehilangan dia sampai aku menggenggamnya terlalu erat; aku tidak memberikan sedikit ruangan baginya untuk bernafas. Aku bahkan mengacaukan kehidupan keluarganya! Terbayang kembali pembicaraanku dengan ayah Sitti sore itu.

“Saya cinta sama Sitti Pak,” kataku pada Ayah Sitti waktu itu ketika aku mendengar kabar bahwa mereka akan menikahkan Sitti dengan orang lain. “Saya akan berusaha sebiasanya untuk membahagiakan anak Bapak. Saya akan berjuang Pak,”

Ayah Sitti bahkan tidak sudi memandang wajahku. Hampir dengan suara dari mulut yang terkatup kudengar ia berkata: “Saya tidak akan menikahkan anak saya dengan anak dari keluarga bajingan seperti kamu.” Aku tersentak. Aku tidak menyangka ayah Sitti akan berkata sekasar itu padaku. Aku bahkan tidak akan pernah mengira kata-kata seperti itu mampu diucapkan seorang Uztad sepertinya.

“Orang tua saya dan saya berbeda Pak…”

“Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Sandro!” bentak ayah Sitti memotong kata-kataku. “Saya tidak akan pernah memaafkan kelauarga kalian! Kalian keluarga penjahat!”

“Pak, saya dating karena saya menghormati Bapak. Saya datang sebagai orang yang menghargai keluarga Bapak. Saya ingin menkahi Sitti dengan baik-baik.” Aku berusaha menahan gejolak dalam dadaku ketika aku mengatakan kata-kata ini. Hatiku begitu teriiris oleh sikap dan kata-kata ayah Sitti.

“Sandro! Apa tidak cukup keluarga kalian menghina keluarga kami?! Ladang kami kalian ambil, sapi kami kalian sita, bahkan nama baik kami kalian hancurkan! Kau dan orang tuamu itu bajingan! Bangsat!” Amarah ayah Sitti mulai tidak terkendali. Hujatan dan kata-kata kasar yang keluar begitu saja dari mulutnya memancing emosiku.

“Bapak jangan seenaknya saja bicara ya! Bapak juga pernah melakukan hal buruk kan? Bapak juga pernah main suap untuk jadi kepala desa kan?”

“Apa katamu?!”

Aku berusaha meredam amarahku. “Sudahlah Pak, saya mohon jangan bawa-bawa nama orang tua saya. Ini urusan saya, dan saya ingin berusaha bertanggungjawab atas urusan ini tanpa melibatkan orang tua saya,”

“Tapi kau tetap saja anak orang tuamu kan?!”

Aku merasa putus asa dengan sikap ayah Sitti. Di satu sisi aku sangat ingin bertanggungjawab dan menikahi Sitti, namun di sisi lain aku tidak ingin nama orang tuaku diinjak-injak seperti ini hanya karena niatku. Niatku ini tulus ingin bertanggungjawab.

“Pak Uztad… saya mohon Bapak pahami situasi saya dan Sitti…” ujarku dengan tersendat oleh emosi yang bercampur dan berkecamuk dalam dadaku. “Saya ingin bertanggungjawab atas bayi dalam kandungan Sitti…”

“Keluar!” perintah ayah Sitti dengan keras sambil menunjuk ke pintu ruang tamu mereka yang terbuka. Suaranya menggema dalam ruangan. “Keluar saya bilang!” teriaknya dengan suara yang lebih keras.

Aku menggeleng pelan. “Saya tidak akan pergi sebelum Bapak merestui kami…” Ayah Sitti cepat-cepat mencengkeram lengan bajuku lalu mendorongku keluar. Aku memohon tetapi ia tidak menghiraukanku lagi. Dengan sekali dorongan aku terperosok keluar pintu lalu ayah Sitti membanting pintu rumahnya dengan keras di depanku. Aku berusaha berdiri dan mengetuk. Setelah beberapa ketukan yang sama sekali tidak dihiraukan, aku melangkah gontai keluar dari teras rumah mereka. Beberapa tetangga menatapku dengan wajah penuh simpati namun aku benar-benar tidak peduli.

Aku menghisap rokok itu sekali lagi dalam-dalam, berusaha meringankan beban dalam kepalaku. Permusuhan antara keluargaku dan keluarga Sitti benar-benar telah menciptakan situasi yang rumit dalam hidupku. Aku ingin Sitti, batinku. Aku menginginkan Sitti.

Sesaat kemudian telepon genggamku berdering. Kugapai dengan lekas benda itu namun hanya sebuah nomor tak dikenal yang terbaca di layar. “Halo…”

“Ya…halo, Sandro?” terdengar sebuah suara wanita diseberang sana. “Ini umi Riya… ibunya Sitti…”

“I-iya Bu… ada apa ya Bu?” ujarku tersendat. Hatiku berdebar tak menentu.

“Nak… Sitti sudah meninggal…Sitti keracunan…Sitti bunuh diri Nak…”

Kulepas telepon genggam itu jatuh ke lantai dan bersandar ke tembok yang dingin oleh hujan. Pikiran dan hatiku kosong. Mataku berkunang-kunang. Air mataku kering. Kupandangi langit-langit ruang tamu rumah kami lekat-lekat. Lalu tubuhku tersungkur jatuh. Sayup-sayup kudengar suara ibuku, “Sandro…! Sandro….! Kamu kenapa Nak?!” Ah, hidup agaknya tak berarti lagi, batinku. Mengapa air hujan selalu terasa begitu dingin? Mengapa udara hangat selalu berakhir dengan hujan deras yang dingin? Mengapa cinta selalu berlalu… seperti dihapus hujan yang berlalu…

Rindu

Lonely_Sunset_by_dophineh1

Aku merindukannya. Dalam ruang-ruang hatiku, tersimpan kenangan ketika kita bersama. Ketika senyuman dan tawanya memenuhi hari-hariku yang sepi. Suaranya, matanya, dekapannya begitu merasuk dalam hatiku, menempati tempat yang khusus dalam hatiku. Aku mencintainya dengan tulus. Aku menyayanginya. Ya, aku menyayangi Ben dengan setulus hatiku.

Kuingat ketika pertama kali bertemu pandang dengannya saat ibunya meninggal. Ketika wajahnya dipenuhi rasa kesepian dan kesedihan yang dalam. Di sudut-sudut matanya, ia menyimpan begitu banyak beban yang tak terucapkan. Aku lihat, aku tahu ia begitu sedih ketika ibunya meninggal. Dan rasa kasihan dan empati adalah pintu masuk cinta yang paling lebar.

“Aku berasal dari keluarga broken home,” ujarnya malam itu ketika kami berkisah tentang kehidupan kami di halaman belakang rumah kostku, beberapa hari setelah ibunya dimakamkan. Malam sudah larut dan cahaya rembulan yang berwarna perak menerangi sekeliling kami. Sesekali angin berhembus pelan diantara celah-celah daun membunyikan suara musik alam yang indah. Air dalam kolam ikan dekat kursi kami mengalir pelan, sesekali ikan dalam kolam itu berenang cepat dan menghempaskan air dalam kolam, menciptakan suara cipratan air yang sejuk.

“Ayahku bercerai dengan ibu sejak aku masih kecil. Bertahun-tahun aku ngga pernah berjumpa muka dengannya hingga aku berusia tujuh belas tahun. Waktu itu aku sempat berdoa supaya Tuhan mengijinkanku bertemu dengan Papa di hari ulang tahunku yang ketujuh belas. Yah… dan tepat di sore hari ulang tahunku untuk pertama kalinya Papa menghubungiku sejak sepuluh tahunan lebih…” kisah Ben sambil memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. “Aku dan Papa bicara beberapa menit di telepon. Tapi kejadian itu jadi sebuah momen yang sangat berharga bagiku…”

Ketika ia selesai berbicara Ben mengangkat wajahnya dan memandangku lalu tersenyum. Aku merasakan desir yang aneh dalam dadaku. Aku membalas senyum tulusnya sambil memandang lembut ke dalam kedua matanya. Aku bisa merasakan bagaimana perasaaan Ben. Aku tahu persis seperti apa rasanya terpisah dari keluarga yang kucintai, aku benar-benar paham seperti apa rasanya hidup terpisah dari sosok seorang ayah. Aku berusaha menahan emosi dalam dadaku yang membuncah oleh rasa empati pada Ben, sekaligus rasa terharu karena kami mengalami masalah yang sama. Saat itu untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa aku bukan sekedar menyukai Ben, aku menyayanginya.

Ben kemudian melanjutkan kisahnya ketika ia harus menghadapi masalah-masalah dalam hubungannya dengan ibu tiri yang dinikahi ayahnya, maupun kesulitannya dalam menjalin hubungan dengan ayah tiri dari ibunya yang menikah lagi. “Aku berusaha sebisanya untuk hidup mandiri, Ndre” ujarnya. “Aku kerja, aku benar-benar ingin terlepas dari masalah dalam kehidupanku. Aku ingin terbebas dari ayah dan ibuku. Kehidupan keluarga baru mereka masing-masing adalah masalah mereka, aku ngga sanggup terlibat dalam masalah dengan mereka. Apalagi hidup bersama mereka satu rumah…”

“Ada kalanya aku begitu kecewa pada ayahku, Ndre. Aku bahkan pernah mengatakan padanya bahwa hanya ibu kandungku yang mampu memahami diriku, bukan wanita yang sekarang hidup bersamanya itu. Wanita itu hanya ibu tiri bagiku,” kisahnya. “Setelah berkata seperti itu aku pergi dan tinggal di kostan sendiri.”

Ben menghela nafas lalu melanjutkan kisahnya. “Ternyata, masalah perceraian ini tidak hanya dialami orang tuaku saja, Ndre. Aku pun sama. Isteriku selingkuh dengan laki-laki lain. Isteriku pergi ninggalin aku sendiri. Di satu sisi aku akhirnya bisa memahami bagaimana rasa sakit oleh perpisahan yang dialami orang tuaku. Tapi di sisi lain, aku kecewa. Aku tidak ingin anakku menderita karena terpisah dari seorang ayah. Aku tahu betul bagaimana sakitnya hidup tanpa ayah,”

Aku menganguk pelan sambil menyeruput teh yang mulai dingin karena udara yang semakin dingin ketika malam beranjak subuh. Aku menahan kata-kata di tenggorokanku dan membiarkannya tersendat dalam kerongkonganku. Aku tidak ingin berbicara tentang masalahku sendiri. Aku sadar ketika Ben mulai membuka masa lalunya dan kehidupan keluarganya, aku merasa begitu sedih. Aku seperti ingin menangis ketika mendengarkannya. Ketika Ben berkisah panjang lebar tentang kehidupan keluarganya, fragmen-fragmen memori dalam kepalaku mulai mencuat dan kenangan masa lalu keluargaku sendiri terputar dalam benakku seperti sebuah rol film. Aku pun sama, keluargaku pun begitu hancur, batinku. Pikiranku melayang ke masa lalu, ke masa kecilku.

Aku melihat diriku sebagai anak kecil yang sedang duduk terdiam di sudut kamar, ketakutan oleh keributan antara ayah dan ibuku. Suara teriakan dan bentakan ayah pada ibu; suara tangisan ibuku yang terisak. Aku kembali diselimuti rasa sedih dan luka itu kembali terbuka. Hatiku takut, jantungku berdegub kencang dan aku bisa merasakan keram di kedua kakiku. Sumpah serapah ayahku yang mabuk berat, yang membanting peralatan dapur kami. Melempar piring dan gelas sambil mengucapkan ancaman-ancaman pada ibuku. Aku begitu takut. Aku begitu takut karena aku mendengar ibuku menangis.

Tiba-tiba kudengar ibu dan adikku berteriak dan menangis bersamaan. Aku terkejut dan memberanikan diriku melangkah keluar kamar. Aku melihat ayahku sedang menampar ibu. Jantungku berdegub begitu kencang. Aku begitu takut namun aku hanya terdiam.

“Okto…Okto…aku mohon jangan pukul aku di depan anak-anak…” ibu memohon pada ayah yang makin tidak terkendali main tangan pada ibu. Aku tidak mampu menahan diriku lagi.

“Ayah…!!” teriaku. “Ayah jangan pukul Mama…!!” Aku berteriak sambil menangis. Ayah memandang padaku sebentar lalu ia meludah ke lantai dan kemudian berjalan pergi keluar rumah. Adikku berusaha mengusap mata Ibu sambil berkata: “Mama, jangan menangis…”

Aku tersentak dari lamunanku ketika Ben menyentuh pudakku. “Ayo masuk Ndre, sudah malam…” ajaknya sambil tersenyum. Aku dan Ben beranjak masuk ke kamarku, mencuci muka, menyikat gigi, lalu beranjak ke atas kasur. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku memandang ke langit-langit kamar, sedangkan Ben memejamkan mata berusaha tertidur. Aku dapat mendengarkan suara hembusan nafasnya dan nafasku beradu. Ada hasrat yang tertahan dalam dadaku padanya, aku sadar. Ini bukan lagi sekedar simpati, empati atau bahkan rasa kasihan kepada teman. Aku menyayangi Ben, dan aku menginginkannya. Termasuk secara fisik.

Tiba-tiba tangan Ben meraih telapak tanganku dan menggenggamnya dengan erat. “Tanganmu kok dingin sih Ndre,” katanya dengan mata terpejam. Aku terdiam tidak menjawab. Namun hatiku bergejolak. Ada hasrat membuncah yang bergejolak dalam dadaku. Ben bergeser perlahan kearah tubuhku, lalu mencium kepalaku kemudian memeluk tubuhku. Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjelaskan ini. Aku merasakan kedamaian dalam pelukannya. Aku merasa begitu hangat dan tenang. Dengan perlahan, Ben melepaskan dekapannya, lalu menghadapkan wajahnya pada wajahku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin menolak Ben, tapi aku juga terlalu takut dengan apa yang sedang dilakukannya. Belum sempat aku mengambil keputusan tentang ini, bibir Ben sudah mendarat dengan bebas di bibirku. Ben mencumbuku dengan begitu hangat. Dan ketika Ben melepaskan cumbuannya, sebutir air mata menetes di pipiku. Aku tidak bisa menjelaskan air mata ini, air mata bahagia atau air mata ketakutan. Yang kutahu, ketika Ben kemudian melanjutkan perbuatannya padaku malam itu, aku menyerah begitu saja padanya. Aku begitu tidak berdaya di depannya.

Aku baru sadar ada yang salah ketika Ben mencapai klimaksnya lalu ia berkata: “Sorry…sorry Ndre…” sambil mengusap keringatnya, mengecup dahiku dan beranjak dari kasur ke kamar mandi. Aku terdiam di atas kasur, tidur terlentang dan berusaha menghela nafasku. Aku berusaha mencerna apa yang baru saja kami lakukan. Cepat-cepat aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang mulai terserang udara dingin.

Aku merindukannya. Hari-hari setelah kejadian malam itu membuatku merasa begitu tidak tenang. Aku merasa ada yang salah dengan ini. Aku merasa ada yang salah antara aku dan Ben, aku merasa apa yang kami lakukan ini salah. Ini ngga bener, batinku. Namun, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari Ben. Wajah dan senyumannya begitu membekas dalam ingatanku dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku tidak paham apa yang terjadi padaku. Aku merasakan kerinduan yang dalam pada Ben. Aku benar-benar merindukannya. Dan kerinduan itu terpuaskan ketika beberapa hari kemudian Ben tiba-tiba mengetuk pintu kamarku pagi subuh. Aku melirik weker di atas meja, dan jarumnya menunjukan pukul 3 pagi.

“Andre…Andre…ini Ben…” suara Ben terdengar dari depan pintu kamarku. Aku beranjak ke pintu sambil berusaha mengumpulkan kesadaranku.

“Kamu dari mana saja?”tanyaku ketika membuka pintu kamar. Namun Ben tidak menjawab. Ia langsung saja melangkah menuju kasur, membuka baju dan celananya lalu membaringkan diri di atas kasur. Aku terdiam sesaat di dekat pintu kamar dan kebingungan dengan sikapnya. Aku bisa mencium bau alcohol memenuhi ruangan kamarku.

“Kamu mabuk ya, Ben?” tanyaku lagi. Aku berdiri di tepi kasur dan menunggu jawabannya namun ia tidak meresponku. Ketika aku akan beranjak ke kursi sofa untuk berbaring karena aku masih sangat mengantuk, Ben meraih pergelangan tanganku dan menarikku padanya, lalu aku terduduk di tepi kasur. Ben lalu bangun lalu menarik ujung kaosku. Aku seperti tidak berdaya. Aku menyerah begitu saja padanya, lagi.

“Bangunkan saya jam setengah 6 nanti ya…” katanya sambil terlelap tidur setelah membersihkan dirinya dari kamar mandi. Aku hanya diam, mengambil bantal dan selimut lalu tidur di sofa. Aku mulai merasa ada yang salah dengan ini. Aku membenci perbuatan kami. Aku berusaha menenangkan pikiranku yang melayang kemana-mana.

Aku tidak bisa tertidur lagi. Cepat-cepat aku mengenakan celana jeansku, mengambil handphone dan earphone lalu beranjak keluar kamar. Aku tidak tahu hendak ke mana. Aku hanya ingin pergi dari kamar itu. Aku benar-benar tidak bisa memahami situasiku, apalagi mengendalikan diriku dalam situasi ini. Aku berjalan tanpa tujuan beberapa saat lalu menemukan sebuah kursi taman yang sepi dengan pemandangan kea rah kota Jayapura yang indah. Aku duduk di situ dan memandang kota itu dengan perasaan yang campur aduk. Entah untuk alasan apa, aku menangis. Aku menangis tersedu di tempat itu beberapa saat. Lalu aku menghela nafas panjang dan melepaskan beban dalam dadaku.

Aku sadar, aku menginginkan hubungan dengan Ben. Aku menyayangi Ben, aku tahu. Tapi ketika itu aku sadar, aku melakukan sesuatu yang salah. Aku dan Ben tidak boleh melakukan itu. Seks harunya dilakukan karena rasa sayang dan cinta yang tulus. Ini bukan seks yang didasari cinta, ini sebuah pelampiasan kami karena kerinduan kami pada sosok seorang ayah. Kami berasal dari latar keluarga yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Aku tidak ingin menamakan ini dosa atau cinta. Aku tidak berhak memberikan nama pada sesuatu yang tidak kukenali. Aku tidak memahami dorongan hasrat seperti apa yang sedang bergejolak dalam diriku. Aku hanya merasa bersalah melakukan ini. Aku tidak ingin melakukan ini lagi.

Namun, aku tidak bisa menolak ketika dua hari kemudian Ben datang lagi. Aku kembali menyerah kepadanya. Namun, kali ini aku menyerah padanya dengan hati penuh kekecewaan. Aku tahu, Ben tidak merasakan apa-apa padaku. Aku merasa seperti hanya sebuah alat pelampiasan yang dipakainya untuk membalaskan dendamnya pada ayahnya. Aku begitu kecewa karena aku menyayangi Ben. Aku kecewa karena Ben seolah hanya memanfaatkanku. Hatiku sakit karena aku juga tahu ini perbuatan yang salah, namun aku sama sekali tidak mampu menolak Ben. Aku ingat, ketika itu aku hanya dapat berkata: “Aku salah apa sama kamu, Ben…kenapa kamu begini sama aku?”

Ben berhenti sebentar lalu tersenyum padaku sambil berkata: “Kamu ngga salah apa-apa. Kamu hanya terlalu nikmat,” Aku tersentak dan hatiku begitu sakit. Aku terdiam dan menelan rasa kecewaku padanya. Aku tidak pernah menyangka laki-laki yang kuanggap baik seperti Ben, dapat berbicara seperti itu padaku. Dia pergi dan dating sesuka hatinya, dan sekarang dia jelas-jelas menyatakan maksudnya. Dia tidak mengganggapku lebih dari tempat pelampiasan.

Ketika Ben beranjak ke kamar mandi, aku segara memakai baju dan jaket, lalu membuka pintu. Tepat ketika Ben keluar dari kamar mandi, aku memintanya untuk pergi saat itu juga. “Keluar kamu…” kataku dengan tatapan jengkel.

“Kenapa secepat itu, Andre sayang…” ujarnya sambil mendekatiku, namun cepat-cepat kutepis tangannya. “Keluar aku bilang!!” kataku lagi sambil menunjuk kearah pintu. Ben tersenyum sinis lalu melangkah keluar kamarku. Aku cepat-cepat menutup pintu kamarku, lalu membanting tubuhku ke atas kasur. Aku menangis. Aku begitu kecewa saat itu.

 

Aku merindukannya. Namun, aku tidak bisa lagi menerima caranya memperlakukanku. Aku tidak bisa menerima perbuatan kami. Iya, aku menyukai sesama jenis. Iya, aku seorang gay. Tapi aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Aku bukan seorang laki-laki yang terbiasa dengan perbuatan seenaknya. Aku terbiasa memperhatikan perasaan orang lain. Aku tidak bisa melakukan seks lalu pergi begitu saja. Tidak, itu bukan aku. Itu alasan mengapa aku kemudian berbicara panjang lebar pada Ben, seminggu setelahnya. Aku tidak mampu lagi menerima perlakuannya.

“Kamu bilang orang-orang nyakitin kamu… ayah kamu nyakitin kamu…tapi apa yang kamu lakuin ke aku?! Kamu tiduri aku sekedar ngisi waktu kosong kamu aja!” suaraku meninggi ketika siang itu Ben mendatangi kostanku untuk bicara setelah aku menghindarinya beberapa waktu. Aku juga tidak membalas SMS-nya atau menyapanya ketika berpapasan di jalan. Dia ingin berbicara langsung denganku karena ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyakitiku. Tapi aku benar-benar terluka.

“Orang-orang ngga nyakitin kamu, Ben! Aku rasa orang-orang ninggalin kamu karena mereka takut sama kamu. Aku rasa isteri kamu juga pergi karena kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri! Kamu bukan butuh orang yang memahami perasaan kamu, Ben. Tapi kamu merindukan ayah kamu. Ini masalah kamu dengan ayah kamu. Sepanjang kamu belum bisa memaafkan ayah kamu, menjalin hubungan yang baik dengannya, kamu ngga akan pernah bisa jadi laki-laki dan ngerasain cinta atau memberikan cinta! Kamu ngga bakal bisa. Karena kamu kehilangan role model seorang laki-laki. Kamu ngga tahu gimana caranya jadi laki-laki karena kamu tidak diajarkan hal itu oleh ayah kamu, Ben.”

Ia terdiam dan tertunduk memandang ubin marmer kamarku yang putih dan dingin. Kudengar ia akhirnya berbicara, “Aku minta maaf…” ujarnya pelan. Aku dan dia sama-sama terdiam. Aku dan dia sama-sama tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan. Ben beranjak berdiri dari kursi, memakai sandalnya dan pergi.

Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya. Orang-orang yang tidak mengalami kecenderungan seksual sepertiku tidak akan mampu memahami perasaanku. Aku menginginkannya, tapi aku tahu ada masalah lebih mendasar yang harus kuselesaikan. Memuaskan hasratku dengan melakukan hubungan seks dengan Ben, atau dengan orang lain hanya akan menambah runyam situasiku. Hidupku sudah cukup rumit dengan semua masalahku. Aku tidak ingin menambah masalah lagi. Tapi, sejujurnya, aku menginginkan hubungan seperti itu. Aku sangat menginginkannya. Aku hampir tidak bisa lagi mengingatkan diriku bahwa ini dosa. Aku tidak bisa membedakan antara dosa dan niat suci dalam kecenderunganku ini. Aku bingung.

Aku merindukannya. Aku sangat merindukan Ben. Tapi aku tahu, baik Ben maupun aku tidak akan mampu menjalin hubungan dengan tulus, atau saling menyangi dengan benar dalam hubungan seperti itu. Cinta tidak berlaku dengan sempurna dalam seks antara dua laki-laki. Cinta butuh komitmen. Tapi hubungan seperti ini tidak bisa didasari dengan komitmen. Tidak ada komitmen dalam hubungan seperti ini. Ben mungkin bersikap seperti memanfaatkanku. Ben mungkin seolah memperalatku sebagai pelampiasan seksnya. Tapi pada dasarnya, aku pun sama dengannya. Aku tidak menolak Ben karena aku punya hasrat yang sama: aku merindukan sosok seorang ayah. Di dasar hatiku, aku menginginkan Ben. Aku menginginkan tubuhnya. Aku pun memanfaatkan Ben!

Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Tapi akan kubiarkan hanya seperti ini. Hanya sebatas asa tak tersampaikan. Matahari akan terus bersinar, angin akan berhembus lalu. Tidak akan ada yang tetap bertahan. Semua akan berlalu; semua akan berubah. Akan kupendam rasaku pada Ben. Akan kubiarkan waktu menyembuhkan luka ini. Aku merindukan Ben, tapi biarlah tetap seperti ini. Biarlah aku aku tetap sendiri.

Aku ingat ketika masih SMA dulu, aku pernah mengikuti study tour ke Ontario, Kanada. Di sana ada air terjun raksasa “Niagara Falls” yang sangat indah. Meski air terjun itu indah, tapi tidak ada yang diperbolehkan mendekati air terjun itu. Kita hanya bisa memandangnya dari jauh, menikmati keindahannya dari jauh. Karena ketika ada yang mencoba melangkah terlalu dekat pada air terjun itu, ia dapat tertarik pusaran arus yang kuat dan tenggelam. Mendekat terlalu dekat dengan air terjun itu bisa mematikan. Aku rasa seperti itulah Ben bagiku. Aku hanya akan berdiri dan melihatnya dari jauh, tanpa menjamahnya. Aku akan terus mengagumi dan menyayanginya, namun aku tidak akan menjalin hubungan dengannya. Biarlah, rindu ini kusimpan untukku sendiri.

Aku merindukannya, tapi biarlah hanya seperti ini.

KISAH PENDEK

thUMX80OGQ

Rumah

Hatiku begitu lelah. Hatiku lelah oleh rasa terasing. Aku merasa begitu terasing saat ini. Rasa terasing yang paling buruk adalah rasa terasing dari rumah. Rumah bukan hanya tentang dinding dan jendela. Rumah bukan tentang bangunannya atau isinya. Rumah tentang relasi di dalamnya. Rumah tentang orang-orangnya, tentang kasih sayang antara orang-orangnya. Dan aku benar-benar kehilangan kasih sayang dalam rumahku sendiri.

“Pergi saja kamu! Dari dulu juga sudah kusuruh pergi kan?!” bentak ayahku pagi itu. Hatiku begitu tersayat oleh kata-katanya. “Saya tidak pernah suruh kamu pulang ke sini kan?! Sekarang kalau kamu mau pergi, silahkan!”

Aku terdiam, namun hatiku bergejolak. Air mata menetes dengan deras di pipiku. Kuredam dengan erat suara hatiku, kuredam suara dalam kepalaku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan isi hatiku. Aku tahu, ini tidak adil bagiku. Ayahku tidak pernah bersikap adil padaku. Baik ketika ia sadar, apalagi ketika ia sedang mabuk berat seperti ini. Aku diam. Aku berusaha diam.

Tante Resty memandangku dengan iba ketika aku mengisi pakaianku satu demi satu ke dalam ransel. Suami tante Resty, Om Sam, berdiri terpaku memandang sikap dan perbuatan ayah padaku. Aku berusaha mengabaikan tatapan iba mereka, namun hatiku semakin pilu ketika aku menangkap ketidakberdayaan dalam diri mereka. Aku tahu ayah melakukan begitu banyak hal bagi mereka dan mereka menghormati ayah. Mereka bahkan akan mendahulukan rasa hormat mereka pada ayah dari pada ketidakadilan ayah padaku. Aku tahu. Tapi aku diam. Aku berusaha diam.

Kulipat satu demi satu pakaianku. Kusisipkan beberapa kemeja ke dalam ransel kecilku. Kupandangi sesaat Alkitab di atas meja ruang tamu kami. Cepat-cepat aku meraihnya dan memasukan kitab suci itu ke dalam ranselku. Aku tidak akan berhenti menaruh harapanku pada Tuhan. Dulu mungkin iya, tetapi setelah segala pergumulan ini, aku tidak akan melepaskan imanku pada-Nya.

“Bawa saja! Bawa saja semua! Alkitab…apa Alkitab?! Dimana Tuhanmu itu?!” bentak ayahku dengan nada orang yang teller oleh alkohol. Aku diam. Aku berusaha diam.

“Kau dan ibumu sama saja! Kalian percaya Tuhan?! Dimana Tuhan waktu isteriku meninggal?! Dua! Kedua isteriku meninggal kecuali ibumu! Kenapa Tuhan pilih-pilih kasih! Kenapa?!”

Aku berhenti sejenak dari kegiatan berkemas dan berdiri terpaku, menatap tajam pada ayah. Lidahku kelu, namun gejolak dalam kerongkonganku seperti bom waktu yang siap meledak. Rasa marah dalam dadaku bergejolak namun aku tidak mampu menggerakan bibirku untuk berbicara.

“Hend…sabar Hend…” ujar Om Sam sambil mengusap bahuku. Aku menganguk pelan lalu melanjutkan kegiatan berkemasku. Ketika kedua ransel yang hendak kubawa sudah siap, aku menggendong ransel yang satu dan menenteng ransel yang lain.

“Aku pergi Yah…” ujarku pelan.

“Ya…! Pergi sana! Pergi dan bawa kutukan ibumu itu! Karena kalian isteriku mati semua…!”

Aku tidak mampu lagi menahan gejolak dalam dadaku. Amarahku merambah hingga ke ubun-ubun. Otot-otot lenganku mengeras. Sambil mengangkat satu telunjukku, aku mulai bersuara dengan suara yang keras, “Kamu yang menghancurkan keluarga ini! Kamu yang terus-terusan mabuk! Kamu yang bikin mama pergi! Harusnya kamu bersyukur aku masih mau datang ke hidup kamu! Aku menyesal pernah datang ke sini! Aku menyesal! Aku pergi!”. Kata-kata itu mengalir begitu saja dengan deras dari bibirku. Terbersit penyesalan ketika aku akan melangkah keluar dari pintu rumah ayah. Namun amarahku sudah begitu memuncak. Hatiku begitu sakit. Keringat dingin mengucur deras bercampur air mata di wajahku.

“Hend… Hendrik…” Om Sam berusaha menenangkanku. Aku mengangkat sebelah tanganku, dengan gesture yang terasa begitu tidak sopan ketika kukenang kemudian. Aku menyesal melampiaskan amarahku pada tante Resty dan om Sam. Tapi semua sudah terjadi. Aku begitu marah saat itu.

Aku pergi dari rumah. Aku kehilangan rumah. Namun, aku lebih kehilangan kasih sayang di antara orang-orang terdekat dalam hidupku. Aku kehilangan rumah. Tapi yang lebih menyakitiku adalah aku kehilangan keluargaku.

Aku pergi dari rumah. Berjalan gontai dengan membawa dua ransel penuh pakaian, aku menemukan sebuah minimarket di sudut jalan. Kuletakan ransel yang kubawa di sebuah kursi dengan meja paying. Aku membeli sebungkus rokok dan sekaleng kopi dingin, membayar di kasir dan kembali ke kursi tadi duduk. Aku menghela nafas panjang sambil memandang lurus ke jalan raya. Kubuka kaleng kopi itu lalu menyeruputnya perlahan. Rasa kopi dingin yang pahit sekaligus manis sedikit menenangkan hatiku. Kubuka bungkus rokok, lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Kepalaku terasa lebih ringan namun sedikit pening ketika kuhembuskan asap rokok itu.

Handphone-ku bergetar. Kulirik telepon genggam itu, tertulis “Mom… calling…”.

“Ya ma…?”

“Kamu baik-baik saja, Hend?”

“Iya Ma,”

“Kenapa kamu bisa pergi dan tinggal sama dia? Bukannya kamu ngga pamit sama ibu ketika kamu mau ke sana…ibu kira kamu hanya sekedar berkunjung…ibu ngga mengira kamu benar-benar ingin tinggal serumah dengan ayah kamu itu…sekarang lihat kan akibatnya… kamu sih…”

Ingin rasanya kulampiaskan rasa sedihku dengan menangis dalam pelukan ibu, namun tak ingin membuatnya khawatir. Aku tidak ingin membuatnya makin terbeban dengan kondisiku, apalagi berdebat denganku saat ini. Beberapa minggu lalu ketika ibu datang ke Jayapura, aku dan ibu terlibat perdebatan sengit yang sulit. Aku tak ingin berdebat dengan ibu lagi saat ini. Aku sudah cukup berdebat dengan orang-orang yang kusayangi hari ini. Aku tak ingin berdebat dengan orang-orang rumah lagi.

“Iya Ma…” ujarku pelan. Aku tidak tersinggung atau terpancing untuk mendebat ibu. Aku rasa sudah cukup perdebatan sengitku dengan ayah pagi ini. Aku tidak mau berdebat lagi.

Mendengar suaraku yang terdengar lemas, ibu melembutkan nada suaranya. “Ya sudah, kamu tenangkan diri kamu dulu. Terus kamu cari tempat tinggal yang baru, Hend…”

“Iya Ma…” jawabku pelan. Setelah berbincang sebentar tentang di mana aku akan menginap malam ini, aku kemudian menutup percakapan kami, menghabiskan kopi dinginku dan memadamkan rokokku. Aku menghela nafas dalam-dalam lalu megusap keringat di dahiku.

Aku duduk merenenung sebentar. Mengapa hidup menjadi begitu berat bagiku? Mengapa masalah demi masalah datang silih berganti ke dalam kehidupanku? Mengapa seolah penderitaan dalam hidupku tiada hentinya?

Setelah berusaha menerima perpisahan orang tuaku selama bertahun-tahun, aku ternyata masih belum bisa benar-benar terlepas dari rasa sakit oleh perceraian orang tuaku. Bagaimana aku bisa menghadapi hari-hariku dengan situasi seperti ini? Aku tidak tahu. Dadaku terasa sesak oleh kesedihan. Aku merundukan kepalaku lalu tanpa sadar air mata mengalir di pipiku. Air mata yang hangat. Air mata keputusasaan. Aku merindukan sesuatu. Aku merindukan sebuah kedamaian dalam rasa sakit yang kuderita. Aku merindukan Tuhan.

Kulipat kedua tanganku lalu menunduk sebentar di tengah keramaian kota. Aku berdoa, entahlah. Aku hanya ingin berdoa untuk segala sesuatu yang telah terjadi ini dan memohon pada Tuhan agar menguatkanku. Aku tidak ingin meminta-Nya membawa pergi rasa sedihku. Aku hanya ingin Dia ada bersamaku menghadapi masalah ini. Hati dan pikiranku begitu terdesak. Aku perlu Tuhan…

Ketika aku berdoa, aku ingat bahwa dalam imanku, Tuhan tidak menjanjikan jalan yang rata dan bebas rasa sakit. Tuhan tidak menjanjikan kebebasan dari penderitaan. Ia menjanjikan tangan yang kuat yang siap menopang dalam segala keadaan.

Kuangkat kepalaku, lalu menghela nafas panjang lagi. Kali ini dengan usaha melepaskan semua bebanku, dan berusaha menenangkan diriku. Menjadi tenang tidak akan membuatku terbebas dari masalah hidupku ini, tapi menjadi tenang setidaknya dapat membantuku melihat persoalan secara lebih jelas dan objektif dan kemudian mengambil tindakan untuk itu, sebatas yang aku bisa.

Aku kehilangan rumah. Aku kehilangan kasih sayang antara orang-orang di dalam rumah. Tapi aku tetap percaya bahwa Tuhan akan membukakan jalan yang terbaik, menurut ukuran-Nya bagiku. Apapun situasiku, aku akan tetap percaya bahwa Tuhan ada di sampingku dan menopang langkahku.

Aku boleh kehilangan rumah, tetapi aku tidak akan kehilangan iman. Aku boleh kehilangan ayah dan ibuku, tapi aku tidak akan kehilangan Tuhan. Orang-orang yang menyayangiku bisa saja mengkhianatiku, tapi Tuhan tidak akan pergi meninggalkanku. Ini imanku: bahwa ketika semua rumah yang kuharapakan di dunia tidak dapat menampung masalahku lagi, Tuhan akan tetap menampungku. Tuhan adalah rumah bagiku.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑